PELATIHAN MALARIA, ORANGTUA DATANG, WABAH DIARE DAN PULANG KE JAKARTA.

December 21st, 2006 by krisnadong

Senin, 18 September 2006

Sholat subuh kali ini berjama’ah walaupun hanya bertiga (dengan Pak Amin dan Sahrun) kemudian pagi-pagi diantar Ophan, perawat ke pelabuhan Wallo untuk naik speed Primadona menuju Ternate untuk mengikuti pelatihan malaria yang diadakan Dinas Kesehatan Propinsi Maluku Utara. Seperti biasa saya senang duduk di atap speed karena tidak pusing plus bias menikmati pemandangan yang indah…subhanallah. Namun setengah perjalanan karena hujan terpaksa saya masuk ke dalam. Sesampai di Ternate, kegiatan yang saya lakukan adalah ngenet, belanja obat dan beli buku di pameran buku Gramedia.

Selasa,19 September 2006

Alhamdulillah, pagi-pagi datang Doddy, Abah, Kang Juri dan dokter-dokter akhwat sehingga kita bisa carter angkot ke Dinas Kesehatan Propinsi. Pelatihan malaria pertama kali dimulai dengan sambutan, pretest dan pengarahan. Alhamdulillah dapat kenalan dokter-dokter baru yang bertugas di Propinsi Maluku Utara. Dokter Rizal dari Puskesmas Kalumpang, dr.Iqbal dari Puskesmas Payahe, dr. Heri dari Puskesmas Sahu dan dr.Ode dari Puskesmas Ibu.

Kamis, 21 September 2006

Pelatihan malaria kembali tetapi saya cabut setelah sholat Zuhur karena mau ke bandara jemput Mama Bapak. Hati ini gelisah bercampur senang dengan kedatangan orangtua. Gelisah karena takut ada apa-apa selama perjalanan orangtua ke Maluku Utara dengan naik pesawat. Senang karena bertemu dengan orangtua setelah 5 bulan tidak bertemu. Alhamdulillah…ternyata pelatihan malaria setelah sholat Zuhur tidak jadi karena mati lampu jadi hanya diskusi saja dan materi power point dilanjutkan besok Jum’at. Alhamdulillah Mama Bapak sampai dengan selamat di Ternate, kemudian saya carter mobil menuju ke hotel Surya Pagi. Dan alhamdulilah buka puasa ditraktir Mama Bapak bareng 5 teman ( Doddy, Abah, Hario, Iwan dan Kang Juri) makan nasi tongseng, gulai dan sate. Kemudian ngobrol di lobi hotel dan pulang ke mess dengan berjalan kaki.

Jum’at, 22 September 2006

Pelatihan malaria terakhir namun saya tidak dapat menemani kedua orangtua untuk keliling kota Ternate. Alhamdulillah Iwan yang memang sudah lama tinggal di Ternate menawarkan diri untuk menjadi guide…makasih Wan. Malam, makan bareng Bapak Mama dan teman-teman di Hotel Surya Pagi…wah benar-benar berkesan karena tempat yang bagus dan makanan yang enak (nasi, cap cay, cumi goring tepung, ayam panggang dan ikan). Kali ini saya patungan dengan Mama Bapak…terimakasih Mama Bapak.

Sabtu, 23 September 2006

Pagi-pagi jam 05.30 naik taksi ditemani Abah, Iwan dan Hario untuk jemput orangtua di hotel kemudian dilanjutkan menuju ke pelabuhan Bastiong untuk menaiki speed ke Makian tapi ternyata 2 speed sudah berangkat duluan terpaksa kita menaiki kapal motor kayu…ombaknya euy..dan banyak yang mabuk laut. Untung kedua orangtua sudah minum obat antimo dan alhamdulillah selamat. Sesampai di Makian, mama bapak istirahat dan saya kerja di Puskesmas. Siang, saya bersama Ophan cabut kuku jari tangan Bapak yang telah menghitam akibat terjepit pintu mobil 2 minggu yang lalu. Malam, tarawih pertama kali bareng Mama Bapak di masjid Rabutdaio – Makian. Senang sekali bias tarawih bareng kedua orang yang sangat sayangi.

Ahad, 24 September 2006

Alhamdulilah, sahur pertama bareng Mama Bapak dengan rendang buatan Mama. Jam 08.00 pagi naik speed Puskesmas ke Pawate, pantai air tawar, bareng pemuda Rabutdaio alhasil Mama Bapak bernyanyi bersama-sama dengan pemuda Rabutdaio malah Mama Bapak sempat berdansa di pantai. Namun hanya sampai siang karena Bapak mendadak sakit diare jadi kita pulang. Sore, silaturahmi ke Bapak Sulaeman dan Ibu Jannah yang selama ini dianggap sebagai orangtua di Makian (disini disebut Mamak Bapak piara) kemudian ke Ibu Jannah (bidan) di desa seberang. Waktu pulang, tidak ada ojeg karena mungkin pada bersiap-siap untuk berbuka puasa alhasil Mama Bapak dan saya pulang berjalan kaki kira-kira 1 km. Jadi pada saat azan maghrib, kita masih berjalan ke rumah dinas. Mama Bapak maafin Krisna yah.

Senin, 25 September 2006

Pagi-pagi, Mama Bapak dan saya diantar motor Puskesmas menuju ke pelabuhan Wallo untuk menaiki speed ke Ternate. Sampai di Ternate langsung ke mess dengan carter angkot kemudian jalan-jalan ke Gamalama. Sore, Pak Hamdjah, Hajirin dan Nining datang ke mess untuk bertemu dengan kedua orangtua. Sementara itu saya dan Abah ke Swering untuk beli makanan buka puasa nasi dan ayam goreng. Malam, bareng Hario bantu bawa barang-barang dokter akhwat ke kapal di Bastiong.

Selasa, 26 September 2006

Jam 05.00 pagi naik taksi Bela ke bandara St. Babullah untuk mengantar kedua orangtua untuk pulang ke Jakarta. Hati ini terasa sedih sehingga tak terasa air mata menetes saat pesawat boarding. Terima kasih Mama Bapak mau menemani Krisna tarawih, sahur, puasa dan buka puasa pertama di Pulau Makian. Dan maafkan Krisna yah Mama Bapak atas pelayanan yang Krisna berikan di Ternate dan Makian tidak memuaskan Mama Bapak tapi semoga Mama Bapak berkesan dengan kedatangan kesini. Siang, ke Dinkes Propinsi ketemu Bu Aty untuk mengurus PTT di Dinkes Propinsi dengan membawa berkas-berkas dilanjutkan ke kantor pos untuk ngenet dan beli buku di took Basmalah. Alhamdulillah, Mama Bapak telah kembali ke Jakarta dengan selamat.

Rabu, 27 September 2006

Pagi-pagi naik ojeg ke Bastiong dan naik speed ke Makian. Alhamdulillah sampai dengan selamat dan Udi, perawat yang menemani Krisna di rumah dinas juga sudah balik. Kita langsung kerja di Puskesmas hingga siang. Sore, ada panggilan ke desa Suma, naik katinting bareng Julman pemuda desa Suma. Alhamdulillah laut teduh sehingga tidak berbasah-basah ria. Ada pasien sesak nafas suspek PPOK dan 3 orang positif malaria falciparum yang sebelumnya bekerja di pertambangan di Dumdum, Halmahera Utara. Pulang, naik katinting sampai desa Sangapati dan berbuka puasa di masjid. Alhamdulillah di desa Sangapati, ketemu teman lama Uchi pemuda Sangapati waktu di perkemahan Pramuka dan diajak berbuka puasa di rumahnya.

Kamis, 28 September 2006

Innalillahi wa ilaihi roji’un, ada wabah diare menyerang 30 bayi/balita di desa Suma dan telah merenggut nyawa 2 orang balita. Alhamdulillah Khamsun dan Udi yang pergi kesana telah bertindak cepat melakukan pengobatan.

Jum’at, 29 September 2006

Hari ini Pak Mato, Kasubdin Pelayanan Kesehatan di Dinkes Kabupaten Halsel datang untuk melihat-lihat Puskesmas, cek SSB yang selama ini belum berfungsi dan obat-obatan. Sehabis sholat Jum’at, naik speed Puskesmas bareng Pak Mato, Icha, Khamsun, Udi, Tahmid, Amir, Siti dan Vivi ke desa Suma untuk melakukan pengobatan samnpai jam 17.00 kemudian balik ke desa Rabutdaio. Ya Allah, berikanlah kesembuhan dan kesehatan untuk pasien-pasien di Pulau Makian khususnya di desa Suma. Malam, ada panggilan kembali ke desa Matantengin dan Sangapati.

Sabtu, 30 September 2006

Shaum Ramadhan ke-7 Kerja di Puskesmas dan alhamdulillah pasien 20 orang. Malam, sehabis maghrib naik speed Puskesmas bareng Icha, Khamsun, Udi, Erik, Sarjo dan Muhajir ke desa Suma untuk melakukan penyuluhan mengenai diare sehabis sholat tarawih dan witir. He..he baru pertama kali ngasih ceramah tarawih nih. Sesudahnya, saya dan Sarjo diantar ke desa Sangapati untuk melakukan pengobatan untuk pasien di desa Sangapati dan berjalan kaki sampai ke desa Dalam untuk melihat acara adat. Acara adat disini yaitu perkelahian antar desa yang melibatkan anak-anak kecil, remaja, sampai bapak-bapak namun uniknya sesudah perkelahian tidak ada dendam. Malah kabarnya tahun kemarin ada yang meninggal dunia namun disini Polisi tidak bisa terlibat karena ini memang acara adat yang sudah turun temurun selama bertahun-tahun.

Senin, 2 Oktober 2006

Kerja kembali di Puskesmas dan alhamdulillah pasien 14 orang. Ada panggilan pasien dari desa Sebelei naik katinting bareng Udi. Subhanallah..ombaknya lumayan dashyat alhasil kita basah kuyup sesampai di desa Sebelei.

Selasa, 3 Oktober 2006

Jam 04.00 pagi. Subhanallah…bagus sekali Gendang Sahurnya pakai mesin, speaker, gitar seperti konser. Saya suka sekali lagu ‘Bangun Sahur’.

Jum’at, 6 Oktober 2006

Jam 08.00 ada panggilan pasien dari desa Suma ada balita diare. Bareng Khamsun naik katinting besar dan alhamdulillah pasien diare tinggal 2 orang dan tanpa dehidrasi…Ya Allah, semuanya hamba pasrahkan kepada’Mu’. Kemudian ke desa Ploily, untuk memeriksa ibu hamil 8 bulan baru balik ke desa Rabutdaio.

Ahad, 8 Oktober 2006

Hari ini full panggilan mulai dari desa Gitang, Rabutdaio hingga malam ke desa Sangapati ada pasien yang kesakitan tidak bisa buang air kecil jadi kita balik ke Puskesmas kembali untuk ambil kateter. Sempat minyak motor Puskesmas habis, ban bocor alhasil saya dan Udi berjalan kaki ke desa Sangapati (kira-kira 5 km) dan alhamdulillah sampai disana sebelum kita pasang kateter, pasien sudah bisa buang air kecil. Alhamdulillah kita juga dipinjamkan motor untuk kembali ke desa Rabutdaio.

Rabu, 11 Oktober 2006

Sehabis sholat Subuh tidur di masjid, alhamdulillah dibangunkan Dullah dan Khamsun jadi tidak ketinggalan naik speed ke Ternate untuk mengikuti acara ulangtahun Propinsi Maluku Utara ke-7 besok hari.

Kamis, 12 Oktober 2006

Hari ini ulangtahun Propinsi Maluku Utara ke-7 Rencananya mau serahterima secara simbolis dengan Gubernur Maluku Utara namun jadinya dr.Dwi dari Puskesmas Galala Sofifi…alhamdulillah karena Krisna tidak ada jas. Setelah itu ke RRI buat radiogram untuk pemberitahuan operasi katarak gratis di RSUD Labuha. Malam, ke pelabuhan Bastiong naik ojeg dan disempatkan sholat Tarawih baru naik kapal Margareth 2 ke Babang.

Jum’at, 13 Oktober 2006

Alhamdulillah sampai di Babang dengan selamat dan menumpang tinggal di rumah dinas dr.Juri. Kemudian pergi ke Dinkes Kab. Halsel untuk ambil gaji bulan September dan ke kantor Pemda untuk ambil gaji Khamsun dan Udi. Siang, sehabis sholat Jum’at bareng Dody, Iwan, dr.Juri dan dr.Surahmat ke Pemda mengurus proposal khitanan massal. Malam, sholat tarawih disamping Bupati Ustadz Muhammad Kasuba kemudian i’tikaf di masjid Al Khairat. Malam Ramadhan ke-21

Sabtu, 14 Oktober 2006

Pagi-pagi jam 07.30 naik speed Pemda ke Makian bareng Bupati untuk membuka acara Pasar Murah di desa Mateketen dan desa Wallo lalu ke desa Suma untuk melihat keadaan paska KLB (Kejadian Luar Biasa) diare. Siang, jam 15.00 datang tim P2M dari Dinkes Halsel untuk melakukan investigasi bersama-sama di desa Suma. Malam ke desa Ploily untuk melakukan pengobatan karena di desa ini ditemukan 10 bayi./balita menderita diare hingga kita bermalam di desa Suma.

Rabu, 18 Oktober 2006

Jam 11.00 ke desa Gurua karena ada 4 pasien diare dari Gurua ke Puskesmas takutnya ada wabah diare. Alhamdulillah ternyata tidak. Ya Allah..hamba memohon semoga Engkau berikan kemudahan dalam mengurus wabah diare.

Jum’at, 20 Oktober 2006

Shaum Ramadhan ke-27 Jam 03.00 pagi Gendang Sahur tapi kali ini gendang sahur sampai pagi di rumah dinas saja karena pemuda-pemuda Rabutdaio sudah tahu kalau hari ini dokternya akan pulang ke Jakarta makanya mereka ingin memberikan yang terbaik. Pagi-pagi sekali jam 06.00 pada saat sedang mandi dipanggil kalau speed Primadona sudah menunggu alhasil terburu-buru sehingga ketinggalan HP dan oleh-oleh dari penduduk Makian sebanyak 1 kardus besar yang isinya kenari seberat 10 kilogram. Namun alhamdulillah dibawakan oleh Udi, Cilu, Erik dan Sarjo naik speed setelahnya yaitu speed Pulau Kenari. Di Ternate sudah menunggu Pak Hamdjah dengan mobil ambulance baru pemberian dari Propinsi Maluku Utara kemudian ke rumah Pak Hamdjah untuk ambil THR dan ke Pasar Tradisional untuk beli oleh-oleh titipan Mama yaitu terasi Sorong, pala, merica dan bagea kenari. Sehabis sholat Jum’at, naik mobil ambulance keliling Ternate bareng Khamsun, Hajirin, Cilu, Erik dan Sarjo ke Pantai Sulamadaha dan Danau Tolire.

Sabtu, 21 Oktober 2006

Hari ini bareng Erik naik ambulance antar Aso dan Sarjo ke bandara. Sepulangnya bareng Erik,Cilu dan Udi ke Sweering beli kue dan minuman batal (buka puasa…red) dan makanan buka di warung tongseng.

Ahad, 22 Oktober 2006

Hari ini bareng Udi antar Cilu dan Erik ke pelabuhan Bastiong. Terimakasih adik-adikku mau mengantar dokternya ke Bandara namun jadinya saya yang mengantar mereka. Saya ke Bandara diantar dr.Arif,SpPD dan Udi naik ambulance. Naik pesawat Express Air. Selamat tinggal Ternate…selamat tinggal Makian. Insya Allah sehabis Lebaran saya akan kembali lagi untuk menjalankan tugas kembali.

Pelatihan Kusta dan Gigi Patah

September 17th, 2006 by krisnadong

Alhamdulillah, bisa mengisi blog kembali. Kali ini ke Ternate untuk mengikuti Pelatihan Malaria di Ternate.

Senin, 28 Agustus 2006
Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada hamba untuk sahur puasa Senin-Kamis dan alhamdulillah hari ini pula teman saya Aso yang dapat daerah PTT yang terjauh juga datang ke Ternate. Hari ini kita mengikuti pelatihan kusta yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi di Ternate tepatnya di Gedung Malaria. Pelatihan dimulai dengan pretest dan dibentuk 3 kelompok, saya sekelompok dengan Doddy. Alhamdulillah dapat kenalan baru, namanya dr.Krisna (sama dong) dari Puskesmas Sahu Halmahera Barat, dr.Budi dari Puskesmas Patani Halmahera Tengah. Pelatihan berlangsung sampai sore. Dan kita makan bareng sekaligus saya buka puasa di RM Bakso Goyang Lidah…alhamdulillah ternyata memang benar kebahagiaan saat berbuka puasa.

Selasa, 29 Agustus 2006
Masih pelatihan kusta, kali ini mengenai pemeriksaan / charting. Innalillahi…Krisna sedih karena 3 rol foto yang dicetak pada hangus semua padahal banyak foto-foto yang berkesan mulai dari Indari, Pramuka dan HUT RI ke-61, jadi berniat mau beli kamera digital.

Rabu, 30 Agustus 2006
Pelatihan kusta terakhir dengan langsung berhadapan dengan pasien kusta. Alhamdulillah saya bisa kenal dengan pasien kusta yang masih kuliah semester 3..Ya Allah berikan beliau kesabaran dan kesembuhan dalam penyakit ini. Acara ditutup dengan post test, alhamdulillah hasil pretest dan post test baik semua. Kita juga dapat uang lumpsum dan transport sesuai daerah puskesmas masing-masing.

Kamis, 31 Agustus 2006
Istirahat…nyuci baju. Kemudian jam 10 pagi ke RS Ananda untuk ketemu dr.Marhaeni,SpA untuk mengambil draft AD/ART IDI Maluku Utara, rencananya kita mau membentuk IDI cabang Halmahera Selatan karena jumlah dokter disini sudah lebih dari 15 orang. Lanjut ke RRI Ternate untuk radiogram pertemuan simposium sehari dan pembentukan IDI Halsel di Labuha. Pulangnya, ke Bank Mandiri dan tidak sengaja ketemu toko buku Islam yang mungil (berukuran 2 x 3 m), disini susah sekali nyari toko buku Islam, beda di Bandung atau Jakarta.

Jum’at, 1 September 2006
Hari ini dari jam 4 pagi hujan terus tapi saya memutuskan untuk balik ke P.Makian daerah PTT Krisna, entah kenapa saya mulai menyukai daerah PTT saya. Alhamdulillah ditemani teman saya Doddy yang memang belum pernah ke Makian. Lumayan juga perjalanan, karena selain hujan juga ombak lumayan dashyat sehingga speed yang kita tumpangi terombang-ambing sehingga membuat teman saya mabuk dan muntah (Krisna jadi merasa bersalah mengajaknya). Sesampainya diberikan obat CPZ alhasil beliau tidur dari jam 2 siang sampai jam 7 malam. Sementara saya ada 2 panggilan, pertama pasien laki-laki surveyor dermaga ternyata dari Bandung euy dengan keluhan panas badan dan kedua pasien pasien laki-laki juga panas badan. Yang terakhir pemeriksaan malaria P. falciparum positif. Disini memang penyakit malaria lumayan banyak, apalagi kalau baru bepergian dari Pulau Halmahera. Padahal semasa kuliah, hanya belajar teori saja karena waktu koass sulit menemukan pasien malaria. Ohya kali ini saya bisa mengisi blog kembali karena besok saya mengikuti Pelatihan Malaria di RRI Ternate tgl 19-23 September 2006. Semoga bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat…amin.

Sabtu, 2 September 2006
Alhamdulillah, teman saya baikan jadi bisa diajak berjalan-jalan ke Benteng Mauritius (benteng peninggalan Portugis) dan ke desa Gorup tempat saya berHP-ria karena dapat sinyal dari Pulau seberang, Pulau Tidore. Pulang jalan kaki dan upps..di Puskesmas sudah banyak pasien alhasil belum mandi langsung periksa pasieng. Untung saja pasiennya tidak pingsan..he..he.
Siangnya, ada panggilan pasien laki-laki dengan retensi urine (tidak bisa BAK) dan 3 kali dilakukan kateterisasi tidak berhasil. Setelah pemeriksaan dubur dirasakan ada pembesaran prostat dan pasien sudah kesakitan (bayangkan bagaimana rasanya tidak bisa BAK) dan alhamdulillah pasien dan keluarga mau dirujuk ke RS Chasan Boiesorie.
Malamnya, teman-teman SMK mengadakan pesta kecil-kecilan kembali dengan membuat minuman air guraka (air jahe) dicampur dengan kenari. Itu minuman kesukaan saya selama PTT disini, mereka tau saja kesukaan saya dan mereka juga tau kalo teman saya besok kembali ke Ternate.

Minggu, 3 September 2006
Nganter teman ke pelabuhan, terima kasih teman mau mampir ke sini.
Pulangnya saya melakukan operasi amputasi jari karena jari yang telah disambung telah nekrosis (menghitam dan bau), alhamdulillah lancar dengan ridho ALLAH. Ya Allah..semoga ini yang terbaik dan berikan kesembuhan untuk pasien ini.

Selasa, 5 September 2006
Hari ini saya beserta 2 staf puskesmas dan 3 orang motoris speed mengantar 5 perawat kontrak dengan speed Puskesmas ke tempat kerja masing-masing. Ada kesedihan diantara mereka ketika harus berpisah dengan kawan-kawannya. Ternyata salah satu staf juga merasa kehilangan buktinya  beliau rela berjalan kaki ke salah satu tempat perawat kontrak. Apakah ini namanya cinta…?

Kamis, 7 September 2006
Balik kembali ke Ternate dengan naik speed tepatnya duduk di atap speed ternyata lebih enak karena selain melihat pemandangan yang indah..subhanallah dan juga udara segar menerpa muka. Sesampai di pelabuhan, dijemput salah satu staf Puskesmas yang baru.
Malamnya, saya dan teman-teman menaiki kapal besar menuju ke Labuha. Perjalanan cukup lama 8 jam, alhamdulillah bisa tidur dengan tenang diatas kapal jadi tidak terasa lama perjalanan.

Sabtu, 9 September 2006
Hari ini acara simposium sehari dan musyawarah pembentukan IDI cabang Halmahera Selatan…jadi MC kong. Alhamdulillah acara berjalan lancar, dapat ilmu yang bermanfaat dari dokter spesialis penyakit dalam,bedah dan obgin, juga terpilihnya dr.H.Juri sebagai ketua IDI Halsel.

Senin, 11 September 2006
Karena ada acara operasi gratis di Kayoa maka saya menumpang speed Pemda ke Ternate. Sebenarnya melewati Pulau Makian daerah PTT saya tetapi karena bukan jadwal kunjungan bupati jadi tidak mampir. Besoknya saya baru balik ke Makian dengan naik speed kembali..biasa duduk di atap speed kembali.

Rabu, 13 September 2006
Alhamdulillah ada pemasangan SSB di Puskesmas sehingga bisa memudahkan berkomunikasi antar puskesmas, atau ke dinas, katanya bisa sampai Jakarta loh…

Sabtu, 16 September 2006
Innalillahi, hari ini saya mengalami musibah jatuh dari motor. Saya baru pertama kali memakai motor ini dan ternyata motor ini tidak ada rem tangannya jadi saya panik waktu di jalan turunan alhasil saya dan perawat terjatuh dari motor. Terciptalah tanda mata dari Pulau Makian, dua gigi seri atas saya patah. Tapi alhamdulillah saya dan perawat saya masih selamat. Jadilah tersusun rencana pas pulang Lebaran nanti saya akan memperbaiki gigi ini. Mohon do’anya yah.

Perjalanan ke desa Sahabat

September 6th, 2006 by krisnadong

"Suatu ketika seseorang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Ketika malaikat telah bertemu dengannya, ia bertanya pada orang it, "Hendak ke mana engkau?" Ia menjawab, "Aku hendak mengunjungi saudaraku di desa ini". Malaikat bertanya, "Apakah engkau memiliki kepentingan yang hendak kaudapatkan darinya?" "Tidak"jawabnya,"Aku mengunjunginya hanya karena mencintainya karena Allah SWT". Malaikat kemudian berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk memberitahukan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya".

(Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW)

Rabu, 7 Juni 2006

Ada acara ulangtahun Kabupaten Halmahera Selatan di Labuha pada tanggal 9 Juni 2006 namun saya kepikiran untuk mengunjungi teman dokter yang PTT di Indari yang merupakan teman seperjuangan waktu kuliah. Jadi saya memilih untuk menaiki kapal Obistar yang lewat daerah PTT beliau. Jam 9 malam, saya sudah diatas kapal dan ada 1 orang pemuda dari Makian yang mengenal saya sebagai dokter didaerahnya jadilah kita mengobrol dan setelah mulai larut malam kami tidur. Perjalanan ini menempuh 8 jam lamanya jadi sampai di Indari jam 05.30. Gelap sekali memang di daerah ini listrik belum masuk dan sinyal komunikasi susah sekali jadi teman saya hanya mengandalkan 1 buah radio untuk mendengarkan berita. Saya berusaha mengingat-ingat perjalanan ke rumah dinasnya (kita dulu diantar ke tempat tugas bersamaan dan beliau yang diantar pertama kali). Alhamdulillah sampai di depan rumah dinas dengan pintu yang terbuka. Saya ketuk dan mengucapkan salam dan alhamdulillah beliau yang membukakan pintu dengan terkaget karena disangka yang memanggilnya adalah pasien. Kami sholat subuh berjama’ah kemudian kita mengobrol. Saya membawakan oleh-oleh halua dan bilolo (makanan khas Makian),kasa jendela dan umpan ikan untuk memancing. Saya hanya bertemu dengannya sebentar saja karena jam 8 pagi saya melanjutkan perjalanan ke Labuha dengan menggunakan longboat. Jadi waktu yang sesingkat itu dipergunakan untuk mengobrol dan foto beliau di depan Puskesmas dan rumah dinas. Namun saya senang sekali bisa bertemu dengan Sahabat saya sejak Ospek dan semoga saya mencintainya karena Allah seperti hadits diatas.

"Demi Allah, malam terasa begitu lama bagiku jika teringat saudaraku seagama, lalu aku berharap segera tiba pagi agar aku bisa memeluknya karena kerinduanku kepadanya" Umar bin Khatab. 

Isu Gempa&Tsunami,Pramuka dan HUT RI ke-61

August 26th, 2006 by krisnadong

Alhamdulillah bisa ke Ternate lagi karena ada pelatihan Kusta buat dokter Puskesmas tgl 28-30 Agustus 2006 jadi bisa nulis blog untuk teman-teman yang tidak bosan membacanya.

Selasa, 25 Juli 2006
Kali ini di Pulau Makian ada isu akan terjadi gempa dan tsunami pada jam 3 sore. Entah darimana isu itu . Tapi sudah cukup membuat sebagian masyarakat banyak yang mengungsi,ada yang naik perahu entah kemana itu perginya, ada yang mengungsi ke Benteng Mauritje (benteng peninggalan waktu penjajahan Spanyol) karena letaknya diatas. Sedangkan saya ? Saya ke tempat biasa yaitu di tepi pantai yang bisa menerima sinyal dari Pulau Tidore untuk SMS ke keluarga untuk mohon do’anya. Setelah itu saya balik pulang  sambil menunggu jemputan motor puskesmas, singgah dulu ke suatu rumah dan ternyata disitu ada Pak Camat sedang maen olah pikir (domino…red). Loh?  Ternyata macam-macam orang menanggapi  isu tersebut. Saya balik ke rumah dan tidur siang…alhamdulillah tidak terjadi gempa dan tsunami. Tapi  oleh kepala desa sesuai instruksi Camat, masyarakat disuruh tetap waspada hingga besok pagi. Malamnya, Krisna ke tempat pasien luka bakar (dalam berita PTT part III), alhamdulillah beliau sudah balik dari rumah sakit dan dalam kondisi baik.

Rabu, 26 Juli 2006
Namun ternyata dari isu itu, ada segi baiknya jadi masyarakat rajin untuk sholat subuh berjama’ah di masjid…semoga ini bisa berlanjut terus.
Kali ini Krisna memberikan penyuluhan mengenai HIV/AIDS kepada anak-anak SMA,SMK dan masyarakat umum dalam rangka kedatangan BKKBN  di Pulau Makian dan teman Pakl Polisi Alimudin memberikan penyuluhan mengenai Narkoba dan Miras. Alhamdullillah penyuluhan berjalan lancar, intinya memang perlu sekali pendekatan agama untuk melindungi dari pergaulan bebas, narkoba dan miras. Disini memang banyak yang menikah dini akibat MBA, ada yang perempuannya masih kelas III SMP, ada yang lakinya kelas 1 SMA dan perempuannya kelas 3 SMA. Padahal hanya kepuasan sesaat tapi bisa menghancurkan prestasi ke depan. Ya Allah…lindungilah kami dari hal-hal yang ‘Engkau’ larang.

Sabtu-Minggu, 29-30 Juli 2006
Ternyata ajal itu memang hanya Allah yang tahu. Saya ke desa seberang karena ada pasien wanita lanjut usia sakit kepala ternyata setelah saya ukur tekanan darahnya tinggi (150/100) dan saya berikan obat penurun tekanan darah. Besoknya innalillahi wa ilaihi roji’un, suami pasien wanita yang saya berikan obat kemarin meninggal dunia.

Senin, 31 Juli 2006
Hari ini bareng Pak Camat ke desa seberang Desa Dauri selaku Kepala Puskesmas naik speed mengikuti pelantikan ibu-ibu PKK. Pulangnya, alhamdulillah barang-barang meubeulair Puskesmas dan Rumah Dinas sudah datang, mulai dari kursi-meja tamu, kursi-meja makan, tempat tidur sampai lemari pakaian. Malamnya, 3 petugas yang menyusun meubelair karena kecapekan menginap semalam di rumah dinas. Alhamdulillah ada teman.

Selasa,  1 Agustus 2006
Hari baru, bulan baru juga ruang praktek baru dengan meja-kursi kantoran serasa seperti baru mulai kerja PTT kembali. Sempat heboh Puskesmas dengan adanya tikus yang membuat staf puskesmas yang perempuan menjerit-jerit sehingga staf puskesmas yang laki-laki sibuk mengejar tikus. Namun dibalik itu ternyata ada berkah yang tersembunyi, karena mengejar-ngejar tikus ternyata baru ketahuan ada sebuah kardus yang belum pernah dibuka yang ternyata isinya ‘benda-benda ajaib’ seperti alat doppler, laringoskop, head lamp dll yang selama ini belum pernah digunakan.Alhamdulillah.

Jum’at, 4 Agustus 2006
Kali ini mengikuti Pembukaan acara perlombaan HUT RI ke-61 dengan sekaligus pertandingan bola voli desa Rabutdaio tempat tinggal saya jadi masyarakat desa menyebutnya anak buah Pak dokter. Tentu saja, selain saya menjadi tim medis perlombaan juga saya jadi supporter mereka dan alhamdulillah mereka berhasil menjadi juara 1 lomba voli putri.

Minggu, 6 Agustus 2006.
Mengikuti rapat teknis persiapan perkemahan Pramuka dan tentu saja dokter menjadi seksi kesehatan kembali. Malam, jam 21.00 ke pernikahan sang motoris yang selalu setia mengantar-jemput dokternya. Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Alhamdulillah…kapan nih dokternya menyusul…

Senin, 7 Agustus 2006
Kerja di Puskesmas dan ada pasien laki-laki berusia 19 tahun datang dengan keluhan gatal-gatal dengan gambaran di kulitnya seperti panu tapi ternyata ada bagian tertentu yang tidak teraba. Selidik penuh selidik, ternyata adiknya pernah mengidap penyakit ini dan meminum obat jangka lama, setelah diperiksa diregister, adiknya dulunya adalah penderita kusta tipe PB. Alhasil  pasien tersebut selain mendapatkan pengobatan untuk panu juga diberikan obat kusta.

Kamis, 10 Agustus 2006
Karena kerja dulu di Puskesmas jadi terlambat mengikuti Upacara Pembukaan Perkermahan Pramuka di Pulau Makian dan langsung bertugas jadi tim medis sampai jam 17.30 karena ada panggilan dari desa Rabutdaio, ada pasien wanita yang terpotong jarinya dan jarinya telah ditanam di tanah selama 3 jam. Langsung jari yang terpotong dibungkus plastik dan dimasukkan ke plastik yang berisikan es. Tadinya mau dirujuk ke RS tapi karena berhubung begitu susah perjalan laut kalau malam hari dan ombak akhir-akhir ini kurang bersahabat. Pasien menginginkan jarinya bisa disambung dan saya memberikan penjelasan kalau disambung hasilnya ada 2, yaitu yang pertama bisa berhasil dan kedua malah terjadi memburuk (nekrosis). Ya Allah Maha Penyembuh, semua hasilnya hamba pasrahkan kepada’Mu".

Jum’at,11 Agustus 2006
Hari ini kedatangan 5 perawat kontrak lulusan SPK Makasar, semuanya perempuan dan masih muda (berkisar 18-19 tahun) yang nantinya ditempatkan di desa Makian luar yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan darat. Alhamdulillah jadi bisa meringankan kerja Puskesmas dan ya Allah lindungilah mereka dalam bertugas karena mereka masih muda sekali.

Minggu, 13 Agustus 2006
Ada panggilan ke Perkemahan Pramuka dari desa seberang Desa Malapat, ada pasien bayi diare. Dengan menaiki perahu katingting selama 3 jam dan ombak yang lumayan besar, alhamdulillah sampai ke desa dan ternyata pasien bayi selain diare juga ada dehidrasi, tampak dari ubun-ubun, turgor dan tidak adanya air mata. Jadi bayi tesebut diberikan terapi cairan sampai sore hari. Dan sore hari, kembali menaiki katingting ke perkemahan Pramuka di Desa Sangapati. Alhamdulillah sampai walaupun dengan baju dan kotak obat basah karena ombak lumayan besar.

Senin, 14 Agustus 2006
Masih kerja di Perkemahan Pramuka dan jam 10.00 upacara HUT Pramuka ke-45 sekaligus pengumuman juara. Sore hari, rombongan Pramuka dari desa Malapat kembali ke desanya dengan naik speed..sedih juga melepas kepergian mereka. Malam ada panggilan pasien di Desa Gitang karena pasien tidak mau makan, tidak mau bicara dan takut dengan kematian (wah..ada juga pasien jiwa). Keluarganya menginginkan diinfus dan diinfus sampai jam 00.00 dengan kondisi dokternya belum makan malam. Alhamdulillah sesampai di perkemahan, dimasakin telur oleh Pramuka SMK (selama kegiatan perkemahan, saya menginap di tenda SMK karena anak-anak SMK sebagian besar teman-teman dari desa Rabutdaio). Jam 01.00 ada renungan malam dan penuh isak tangis dan saling pelukan karena ini malam terakhir berkemah. Memang terasa sekali persahabatan selama kegiatan Pramuka dengan anak-anak Pramuka dan pemuda-pemuda desa Sangapati. Ya Allah…terima kasih "Engkau" berikan hamba kenangan yang terindah.

Selasa, 15 Agustus 2006
Kali ini berjalan bersama teman-teman SMK dari desa Sangapati sampaiu Rabutdaio (kira-kira 10 km) tapi tidak terasa capek, mungkin karena bersama-sama dan diisi dengan menyanyi bersama. Sesampai di Puskesmas, melakukan sunat…ini pertama kali sunat di PTT loh. Ya Allah..semoga hasilnya baik. Kemudian periksa pasien tahanan. Sore menjadi tim medis gerak jalan SD dan SMP dan ada 1 peserta perempuan pingsan dari desa seberang.

Rabu, 16 Agustus 2006
Menjadi tim medis gerak jalan SMU dan Umum, kali ini ada 1 pingsan dan 1 terkena penyakit kuku panjang ? (semacam kesurupan dan katanya laki-laki tidak boleh mendekati) loh kan dokternya laki-laki jadi selain minum obat dari dokter juga minum air putih yang diberikan oleh seseorang yang sudah biasa mengobati penyakit kuku panjang.
Malam, anak-anak SMK putra menemani dokternya nginap di rumah dinas.

Kamis, 17 Agustus 2006
Jam 09.00 ikut upacara 17 Agustus…ada paskibra juga pasukan 17 tambah 3 pengerek bendera. Keren juga latihannya hampir sama dengan paskibra nasional, pagi-sore dan hampir sebulan latihannya. Setelahnya, saya bersama teman-teman Pramuka ke tempat rekreasi pemandian air panas di desa Ploili dan ke pantai air tawar di Pawate. Lumayan juga jalan kaki dan dalam keadaan puasa…jadi segar kembali setelah bermain-main air di Pawate dan berjalan kembali ke Rabutdaio.
Malam acara ramah tamah sekaligus pembagian hadiah ditutup dengan acara berjoget. Saya menolak diajak berjoget oleh bu Camat…maaf ya bu. Jam 01.00 malam baru pulang ke rumah dinas.

Minggu, 20 Agustus 2006
Ke Pawate kembali yaitu acara pembubaran Panitia 17 Agustus dan malamnya ke desa Waigitang naik speed Puskesmas ada acara Isra Mi’raj, ada sedikit kendala kapalnya sempat terkena karang namun alhamdulillah sampai juga.  Pulang ke rumah dinas jam 02.00 malam.

Senin, 21 Agustus 2006
Alhamdulillah hari ini libur dan tidak ada kegiatan. Namun pasien masih berdatangan sekitar 5 orang termasuk kepala desa mengeluh sakit perut. Alhamdulillah setelah 4x bolak-balik ke rumahnya, beliau berangsur-angsur membaik. Malam tidur kembali dengan anak-anak SMK. Sekarang setiap malam, anak-anak SMK putra rajin menemani dokternya, jangan-jangan ada jadwal piketnya…

Jum’at, 25 Agustus 2006
Sore, innalillahi istri Haji Siraju, teman baik yang saya anggap seperti kakek sendiri karena beliau baik, sabar dan sama-sama tidak mau merokok, mendadak lumpuh tangan dan kaki sebelah kanan. Saya ukur tekanan darahnya, kiri dan kanan beda, yang kiri 110/60 dan yang kanan 130/80 dan ternyata istrinya mempunyai riwayat kencing manis. Selain diberikan obat, saya sarankan untuk di bawa ke Rumah Sakit karena ada pemeriksaan yang lebih lengkap dan terapi yang tepat.
Malam, anak-anak SMK 8 orang datang ke rumah dinas dan kita mengobrol dengan 3 perawat yang baru.

Sabtu, 26 Agustus 2006
Malam, anak-anak SMK datang kembali dengan membawa kelapa 5 buah. Alhamdulillah siang, saya mendapatkan sirup dari keluarga pasien jadi alhasil malam ini kami bisa minum es kelapa + sirup. Mungkin mereka tahu kalo besok hari saya mau ke Ternate jadi mereka mengadakan pesta kecil-kecilan. Syukor loci (terima kasih)

Teman-teman, kali ini saya lebih banyak menulis mengenai hubungan sosial. Tetapi memang begitu indah dengan persahabatan terjalin dan menjadikan saya semakin betah untuk bertugas menjadi dokter PTT. Teman-teman, mohon do’a dan dukungan semangatnya yah…

Berita PTT Part III

July 22nd, 2006 by krisnadong

Berita kali ini, setelah mengikuti pelatihan TB-Kusta di Labuha dari Dinas Kesehatan Halmahera Selatan (sebenarnya Krisna telat ikutnya karena informasi yang telat dan tidak mendengar radiogram) Krisna dan Doddy ke Ternate menaiki kapal besar Sumber Raya ke Ternate. Awalnya laut tenang, tapi memasuki lautan Pulau Makian-Kayoa, ombak cukup besar jadi kapal terombang-ambing namun karena kita memang sudah tidur jadi diterusin tidur saja dengan membaca do’a tidur kembali…he..he. Kita sampai di Ternate jam 05.00 pagi jadi langsung sholat subuh sampai di mess.

Ternate adalah kota besar dan sudah cukup maju dengan mall yang baru dibangun. Di sini saya dan Doddy ke kantor agen Merpati beli tiket untuk dokter spesialis bedah yang mau ke Yogyakarta, belanja obat di Apotik Setia Farma (disini yang termurah mungkin kayak apotik Perintis-nya Bandung yah), belanja alat keperluan sehari-hari untuk 1 bulan yang akan dibawa ke tempat PTT masing-masing. Kemudian yang rutin kita lakukan selama di Ternate adalah ngenet walaupun disini ngenet 1 jam berkisar 8000-10.000 karena penting untuk mengetahui informasi dari teman-teman dan bisa menulis blog ini.

Malamnya atau paginya…tanggal 9 Juli 2006, kita nonton play-off piala dunia di mess. Untunglah Jerman menang jadi Krisna tidak malu balik ke tempat PTT kan jagoannya masih juara III.

Seninnya, tgl 10 Juli 2006 nonton final piala dunia kembali. Sesudahnya kita jalan-jalan menaiki carteran angkot ke Pantai Sulamadaha bersama 2 dokter spesialis dalam (yang 1 akan balik ke Depok dan yang 1 akan bertugas menggantikannya  di RS Labuha Halmahera Selatan). Kemudian kita ke PBF Kimia Farma, disini ternyata lebih murah membeli obat-obat yang produk Kimia Farma. Setelah itu Krisna cukur rambut karena sudah 3 bulan tidak cukur rambut (disini 15.000-20.000 man, kalo di Bandung masih 5000-6000an?). Malamnya saya dan Doddy ke toko buku Gramedia (sebenarnya pameran buku Gramedia dari tgl 25 Juni-25 Juli) jadi bisa beli buku-buku baru, jadi tidak ketinggalan dengan teman-teman di Bandung atau di Jakarta. Ohya hari ini Adi-Mely datang dari P.Kayoa dengan speedboat puskesmas sehabis merujuk pasien ke RS Ternate dan pas mau balik tidak bisa karena ombaknya besar jadi semalam menginap di mess.

Besoknya, Krisna nebeng speedboat Puskesmas Kayoa bareng Adi-Mely ke tempat PTT Krisna di Pulau Makian. Adi dan Mely sempat main ke Puskesmas dan rumah dinas Krisna yang masih kosong melompong hanya kasur 1 buah,meja pinjaman dari Puskesmas dan 4 buah kursi pinjaman dari PKK. Maklumlah pengadaan barang mebeulair rumah dinas belum jadi terus padahal sudah dijanjikan seminggu lagi tapi alhamdulillah masih bisa tidur dengan nyenyak..he..he. Setelah Adi-Mely balik ke P.Kayoa, Krisna bertugas kembali di Puskesmas.

Sorenya, innalillahi…ada kebakaran kapal motor dengan 1 pasien luka bakar derajat II 27% (mengenai kedua tangan, leher dan 1 kaki). Saat kesana, Krisna mendapati pasien dalam keadaan lemah dan penuh tanah sekujur tubuhnya, ternyata disini obat kampungnya untuk luka bakar adalah tanah…waduh bagaimana tidak terjadi infeksi. Kalau mau ngerujuk pasien ke RS Ternate tidak bisa karena ombak yang kurang bersahabat apabila menggunakan speedboat Puskesmas maka pasien dibawa ke Puskesmas untuk dirawat semalam menunggu pagi dengan menaiki speed yang lebih besar ke RS.Ternate. Di Puskesmas, Krisna dan 2 bidan membersihkan luka bakar dari tanah dan karena keadaan pasien lemah maka kami guyur pasien dengan 2 labu NaCl (disini RL tidak ada). Dan untuk luka bakarnya Krisna beri Bioplacenton yang baru beli dari PBF Kimia Farma (sebenarnya lebih bagus Burnazin yang mengandung Sulfadiazine perak tapi tidak ada).Juga diberikan antibiotik dan analgetik.  Alhamdulillah keadaan pasien membaik dengan tekanan darah 120/80 mmHg dan sudah bisa makan jadi bisa Krisna tinggal. Karena ternyata sudah ada yang mau menjemput Krisna untuk ke tahlilan saudara Om Pala (Kepala desa…red) maka Krisna juga ikut tahlilan. Malam ini, Puskesmas dan rumah dinas ramai karena banyak keluarga yang menunggui dan baru malam ini listrik nyala 12 jam dari genset dengan minyak dibayarin oleh pemilik kapal motor yang terbakar. Yang Krisna tersentuh adalah ucapan pemilik kapal motor ketika pasien luka bakar memohon maaf kapalnya terbakar adalah "Ngoni (kamu..red) tidak usah pikirin kapal motor. Harta bisa dicari. Tapi sekarang kesehatan ngoni)". Bagaimana tidak tersentuh?

Paginya, alhamdulillah pasien dalam keadaan baik dan Krisna suapin pasien dengan kue tahlilan (kan kedua tangannya terbakar) dan diberi obat kembali. Dan pasien bisa dibawa ke speedboat besar, sebenarnya bukan dibawa tapi pasiennya berjalan sendiri ke speedboat dengan ditemani keluarganya karena Puskesmas tidak ada tandu.   

Dua hari kemudian, motoris Puskesmas datang ke Puskesmas karena ada benjolan sebesar bola pingpong dan sudah diberi obat kampung (Krisna tanya katanya kecubung…kayaknya kita perlu yah mempelajari pengobatan tradisional?) namun belum sembuh-sembuh. Krisna sarankan diinsisi dan beliau mau dengan posisi duduk. Kemudian Krisna suntik anestesi dengan lidokain, mendadak beliau tampak pucat dan berkeringat wah..jangan2 syok anafilaktik nih kemudian Krisna suruh pindah ke tempat tidur agar diinsisi di bed saja…alhamdulillah berhasil. Ternyata kata beliau, memang dulu beliau pernah pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit. Oh..begitu, disangka syok anafilaktik.

Hari-hari Krisna isi dengan membaca buku2 yang baru beli dari Gramedia mulai dari ‘Kiamat Sudah Lewat’ cerita anak2 Aceh paska Tsunami yang subhanallah semangatnya mereka dalam melewati masa sulit untuk mengejar cita2 jadi memacu Krisna untuk semangat. Sampai terakhir membaca buku ‘Senja Merah di Tanah Maluku’ mengenai cerita2 dokter Mercy dalam perjuangannya saat ada Tragedi Maluku Berdarah. Alhamdulillah sekarang..kondisi dan suasana sudah baik. Karena kayaknya pas ditanya PTT kemana, dijawab ke Halmahera Selatan, teman2 atau dokter2 bilang loh kan itu daerah kerusuhan, tidak apa2 kesana? Alhamdulillah..sudah berbeda jadi tidak usah takut PTT ke daerah ini, insya ALLAH aman dan tentram.

Sabtu, ada panggilan ke Desa Seberang karena ada surat yang berisi bahwa istrinya sakit perut. Langsung Krisna siapkan obat2 buat sakit perut dan naik ojeg kesana. Ternyata bukan sakit perut biasa, pasien itu telah mengalami perdarahan 3 hari dan sedang hamil 3 bulan. Tidak lama kemudian keluarlah bungkalan daging ternyata abortus komplit dan nyeri perutnya menghilang seketika. Jadi tidak perlu Krisna suntik ergometrin karena sudah keluar semua dan buat jaga2 diberikan antibiotik.

Selasa, jam 8 malam ada panggilan dari Desa Seberang karena ada pasien perempuan lemah, tidak mau makan. Dengan berjalan kaki pada malam hari riskan berbahaya karena 3 jembatan rusak maka kami menaiki kapal long boat (sebuah perahu panjang dengan dipasang 1 mesin). Cukup seru…karena mesin sempat mati 3 kali dan ombak lumayan mempermainkan kami jadi seperti main arung jeram saja dengan air telah memenuhi kaki namun alhamdulillah kami sampai dengan salamat di desa tersebut. Memang pasien tersebut tampak lemah dan kurus sekali maka Krisna langsung pasang infus (disini tidak memakai abbocath jadi langsung jarum yang dari infus set) yang pertama kali di tangan kanan sempat bengkak maka dipindah ke tangan kanan alhamdulillah tidak bengkak dan lancar sampai besok pagi, kali ini Krisna bermalam kembali di rumah pasien. Besok paginya, Krisna balik bersama 2 orang keluarganya berjalan kaki lumayan 3 km dengan menyusuri pantai karena jembatan rusak. Sebelumnya Krisna ambil sputum (dahak) pasien itu karena pasien itu telah lama batuk2 kering (6 bulan) buat oleh-oleh bidan Krisna untuk diperiksa laboratoriumnya walaupun ternyata gagal karena yang terambil adalah air liur pasien jadi Krisna minta ke keluarganya kembali.

Yang terakhir, berita yang menyedihkan bagi Krisna. Rabu, jam 15.00 ada panggilan kembali di desa seberang ada pasien bayi 1 hari yang sesak. Setelah Krisna disana, memang bayi itu dalam keadaan sesak dan sudah biru (sianosis). Lagi2 kalau mau dirujuk terbentur dengan masalah ombak (musim-musim ini ombak kurang kurang bersahabat). Jadi terpaksa Krisna suruh keluarganya untuk mengambil tabung oksigen di Puskesmas dan bayi diberikan oksigen…alhamdulillah bayi memerah dan tenang. Krisna sarankan untuk besok dibawa ke RS Ternate dengan speedboat besar tapi jawaban dari bapaknya mau berunding dulu dengan saudara yang dituakan. Krisna sudah berpikir pasti kalo gini ujung2nya tidak mau dirujuk. Jam 20.00 malam Krisna dan perawat sholat Isya dan bayi dititipkan ke bidan. Namun setelah sholat isya, Krisna mendapati bayi telah pucat dan bunyi jantung lemah dan satu2 dan selang oksigen tidak terpasang. Kata bidan Puskesmas, saudara yang dituakan yang menyuruhnya untuk melepaskan oksigen dan dengan tenangnya saudara yang dituakan berkata, "Sudah tidak ada kan.. dok?". Dengan perasaan kesal dan sedih Krisna RJP bayi dan innalillahi wa ilaihi roji’un bayi cantik itu telah berpulang ke Pemiliknya. Namun ini adalah kehendak ALLAH walaupun kita telah berusaha dan ini adalah yang terbaik bagi bayi itu. 

Semoga teman-teman tidak bosan mendengar cerita Krisna. Dan Krisna selalu memohon do’a teman-teman semua agar Krisna dapat menjalankan PTT dengan baik. Semoga dapat berguna bagi teman-teman.

Demam Piala Dunia

July 7th, 2006 by krisnadong

Demam Piala Dunia tidak hanya melanda kota2 besar saja melainkan di daerah PTT Krisna walaupun tidak ada listrik dan sulit sinyal jadi mesti pake genset dan parabola tapi kita tetap antusias. Kebanyakan penduduk menjagokan Argentina dan Brazil dan cuma Krisna dan Kepala Desa yang menjagokan Jerman. Mereka lebih dahulu sedih karena jagoannya lebih dahuluan ‘pulang kampung’ dan tampak sebel kepada Pak Dokternya jadinya saya juga bingung padahal kan itu cuma permainan. Tapi alhamdulillah setelah Jerman kalah dari Italia, mereka tampak senang dan menggoda Pak Dokternya yang sedang naik motor dan memang niat menunggu di seberang jalan untuk menggoda Pak Dokter jagoannya kalah..he..he.

Kali ini tiap malam, saya mengikuti tahlilan (disini tahlilan 9 malam) jadi so tahlilan terus walaupun selesai tahlilan diisi dengan membahas Piala Dunia, jembatan rusak sampai ke politik segala. Dan yang termuda ikut tahlilan adalah saya dan yang lain mesti sudah tua dan berkeluarga dan pakai peci padahal Krisna tidak bawa so Krisna ke Ternate bareng Doddy beli peci hitam.

Kali ini Krisna menangani pasien yang sobek kelopak mata atas terkena bambu alhamdulillah tidak mengenai bagian dalam bola mata dan penglihatan tidak terganggu. Krisna menjahit luka tersebut di rumah pasien yang gelap jadi Krisna memang bawa lampu emergensi untuk menerangi dan kerja sendiri..alhamdulillah setelah kontrol 4 kali luka membaik dan jahitan bisa dibuka. Ternyata tidak berhenti disitu saja, malamnya Krisna dipanggil karena ada pasien yang tidak sadar dengan menaiki kapal katingting (perahu dengan menggunakan mesin berupa kipas) dan ternyata pasien itu tekanan darahnya 200/120 jadi Krisna turunkan dengan obat antihipertensi sambil dengan terapi cairan lewat infus. Jadinya Krisna bermalam di rumah pasien untuk memonitor dengan ditemani tahlilan dari keluarga bahkan ada keluarganya yang menyuruh untuk melepas infusnya tentu saja ditolak. Krisna sudah menyarankan pasien tersebut dirujuk namun keluarga masih berunding. Tapi tampaknya di daerah sini memang sangat susah untuk menyuruh dirujuk apalagi pasiennya sudah tua.

Selain itu memang faktor cuaca (sekarang ini adalah angin selatan) maka ombaknya begitu ganas apalagi malam hari jadi ada kapal yang tenggelam di Pulau sebelah dengan 3 orang tewas. Jadi saat Krisna mau merujuk pasien anak suspek pneumonia berat dengan sesak napas jadi mesti menunggu pagi tapi ALLAH menentukan lagi bayi lucu tersebut telah dipanggil olehNya. Krisna sedih dan kepikiran terus menerus namun Krisna sadar bahwa kita adalah makhluk’Nya’ walaupun berusaha tapi ALLAHlah yang menentukan hidup mati seseorang.

Krisna juga pernah berjalan mungkin sekitar 4 km menyusuri pantai karena 3 jembatan putus setelah menangani pasien dengan dioleh-olehi Halua (makanan khas daerah ini adalah kenari) dengan ditemani 2 orang penduduk karena takutnya Pak Dokternya pingsan ditengah jalan..nggak dong kan Pak dokternya rajin lari pagi dengan Pak Kepala Desa dan berjalan bolak balik 2 km untuk mencari sinyal HP dari pulau sebelah (pulau Tidore).

Alhamdulillah ternyata ALLAH memberikan begitu banyak warna dalam kehidupan Krisna. Semoga teman2 tidak bosan mendengarkan cerita dari Krisna.

Berita untuk teman2

May 29th, 2006 by krisnadong

Asslm.Wr.Wb. Alhamdulillah disini baik2 Teman. Krisna di Maluku Utara dikontrak tepatnya di Pulau Makian selama 1 tahun. Disini masyarakat 100% muslim tapi lucunya banyak yang pelihara anjing (kayaknya buat jaga2 dari serangan babi hutan saat berkebun).  Disini listrik tidak ada jadi cuma pakai genset dalam waktu-waktu tertentu (jam 6 pagi sampai jam 12 siang dan jam 6 malam sampai jam 10 malam). Juga tidak ada sinyal telepon tapi ternyata bisa nyari2 di suatu tempat (1 km dari Puskesmas) yang ternyata dapat sinyal dari Tidore..
Dokter disini sangat dihormati, setiap jalan pasti ada yang negur dan ada yang memberi tumpangan
gratis padahal ojeq loh. Krisna jadi semangat akan
berusaha memberikan pelayanan kesehatan
yang baik kepada masyarakat. Ohya di Kabupaten
Halmahera Selatan pengobatan di Puskesmas
dan RS gratis. Krisna disini menempati rumah dinas
sendirian padahal 3 kamar, tadinya sempat
dengan perawat laki tapi dia tidak betah karena difitnah oleh masyarakat desa pernah tidur berdua dgn perempuan padahal setahu Krisna tidak. Tapi Krisna tidak memaksa yang penting dia bahagia jadi tidak2 apa dia pindah tugas ke RS. Disini makanan
terjamin karena dimasakin terus padahal Krisna
mau membayar tapi katanya memang ada dana rutin
buat makanan dokter, yah udah Krisna disini jadi
senang makan ikan padahal Krisna jarang makan ikan di Bdg atau Jkt. Tapi jadi kangen ama tahu dan
tempe..lucu yah padahal dirumah juga jrg makan tahu dan tempe. Disini Krisna banyak kenalan mulai dari lari pagi ama Kepala Desa, ama polisi (Krisna pernah mengobati beliau saat sakit malaria) dan yang berkesan dengan Brimob, Krisna diajarin menembak pohon wah telinga sempat tuli dan staf Puskesmas pada keluar semua disangkanya saya ditembak he..he.
Krisna juga senang kalo ada pasien yang diobati Krisna sembuh tapi itupun pasti ada pertolongan dari
ALLAH juga. Krisna sempat sedih waktu ada pasien
anak2 yang kurang gizi, dehidrasi berat, perutnya
membesar dan tidak bisa BAB 5 hari, tapi tidak
mau diberi terapi infus dan dirujuk ke RS Ternate
dengan alasan pasien sudah tidak bisa minum tinggal
menunggu ajal. Disini pasien yang benar2 parah
baru datang ke dokter, sebelumnya dibawa ke dukun
dulu buat ditiup2. Dan ada yang lucu, ibu yang baru melahirkan, dibawah tempat tidurnya dikasih
arang  jadi kayak dipanggang kan itu bahaya sekali bisa terjadi emboli. Wah banyak sekali cerita Krisna
yah Teman semoga Teman tidak bosan mendengar
cerita Krisna dan Krisna mohon do’a Teman2 semoga
Krisna bisa bertugas PTT dgn sebaik2nya.